radio dan perkembangan teknologi

Latar belakangpenciptaan teknologi Radio (istilah secara umum) dalam kehidupan sehari hari digunakan sebagai sarana penyampai informasi. Suara yang kita dengar dari pesawat radio merupakan perubahan bentuk energi elektromagnetik dari gelombang radio yang ditangkap oleh pesawat radio, kemudian diubah melalui loudspeaker (pengeras suara) menjadi energi bunyi sehingga bisa kita dengar.

Suara yang kita dengar dari pesawat radio bisa berisi tentang hiburan, misalnya musik, humor serta berita dan berbagai informasi lainnya. Jadi penyebutan istilah RADIO pada umumnya masih rancu. Pengertian pertama adalah: alat/pesawat untuk mengubah gelombang radio menjadi gelombang bunyi/suara. Sedang pengertian lainnya adalah gelombang yang merupakan bagian dari gelombang elektromagnetik

Sama halnya dengan media massa lainnya, radio juga pada dasarnya mempunyai fungsi. Seperti yang diungkapakan oleh Effendy (1993:137-138), bahwa radio siaran mempunyai 4 fungsi:Fungsi penerangan, fungsi pendidikan, fungsi hiburan dan sebagai sarana propaganda.

Seperti yang telah diketahui, radio siaran bersifat audial, yang hanya dapat digunakan dengan cara didengarkan,tapi bukan berarti radio siaran tidak sanggup menjalankan fungsinya sebagai media penerangan. Radio dianggap sebagai media yang mampu menyiarkan informasi yang amat memuaskan walau hanya dilengkapi dengan unsur audio. Radio siaran dapat menjalankannya dalam bentuk siaran berita, wawancara, editorial udara, reportase langsung, talk show dan lain-lain.

  1. Permasalahan industri kreatif dan ekonomi

Radio merupakan salah satu bentuk media massa yang banyak digunakan masyarakat untuk mengakses informasi. Radio pertama kali ditemukan oleh Marconi pada tahun 1896. pada awalnya radio berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan informasi dan berita ataupun untuk kepentingan kenegaraan secara umum. Radio publik atau komersil baru muncul pada tahun 1920-an. Sejak itu perkembangannya  berkembang pesat. Radio merupakan sumber informasi yang kompleks mulai dari fungsi tradisional, radio sebagai penyampai berita dan informasi, perkembangan ekonomi, pendongkrak popularitas dan kasir, hingga propaganda politik dan ideologi.

Di Indonesia, radio sebagai media yang terkait dengan medium kebutuhan local. Media komunikasi massa yang hanya memiliki skala lokalitas suatu daerah tertentu berbeda dengan televisi dan film yang skalanya nasional.

Perkembangan radio di Indonesia dimulai dari zaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, masa kemerdekaan, dan zaman orde baru. Radio siaran disebut sebagai “The Fifth Estate” atau memilki lima kekuatan yaitu, fungsi kontrol sosial, memberikan informasi, menghibur, mendidik serta melakukan kegiatan persuasif.

Radio siaran memilki gaya penyiaran sendiri atau yang disebut radio siaran style, yaitu :

  • Imajinatif, pesan yang disampaikan kepada khalayak hanya mengandalkan pendengaran, sehingga menimbulkan imajinasi khalayak, selain itu karena pesan yang disampaikan bersifat selintas maka dapat membangkitkan imajinasi.
  • Audiotori, karena sifat pesan yang ahanya mengandalkan pendengaran, maka harus dikemas sejelas dan semenarik mungkin.
  • Sifat radio yang akrab dan intim karma umumnya radio didengarkan saat kita sedang mengerjakan sesuatu
  1. Permasalahan sosial budaya

Seperti yang telah diketahui, radio siaran bersifat audial, yang hanya dapat digunakan dengan cara didengarkan,tapi bukan berarti radio siaran tidak sanggup menjalankan fungsinya sebagai media penerangan. Radio dianggap sebagai media yang mampu menyiarkan informasi yang amat memuaskan walau hanya dilengkapi dengan unsur audio. Radio siaran dapat menjalankannya dalam bentuk siaran berita, wawancara, editorial udara, reportase langsung, talk show dan lain-lain.

Keuntungan dari Radio adalahDapat menjangkau hampir seluruh warga negara dalam masyarakat, setiap waktu, setiap tempat, dan melibatkan siapa saja (bahkan orang buta huruf) serta di mana saja.Pendengar tidak harus tetap berada di depan pesawat radionya, tidak seperti halnya menonton televisi.

Ini berarti mendengarkan dapat dilakukan sembari melakukan hal-hal lainnya, berpindah tempat, tetapi harus tetap dengan konsentrasi tinggi. Hal ini berarti lebih banyak waktu yang dapat digunakan untuk mengerjakan hal-hal lainnya, sambil dapat mendengarkan/ menikmati suaranya. Ini juga berarti bahwa makin banyak pendengar yang dapat dijangkau sementara mereka masih tetap dapat bekerja sesuai tanggung jawab pekerjaannya.

Radio adalah media elektronik termurah, baik pemancar maupun penerimanya. Ini berarti terdapat ruang untuk lebih banyak stasiun penyiaran dan lebih banyak pesawat penerima dalam sebuah perekonomian nasional. Dibandingkan dengan media lain, biaya yang rendah sama artinya dengan akses kepada pendengar yang lebih besar dan jangkauan lebih luas dari radio.

  1. Permasalahan pendidikan

Sebagai media pendidikan, radio siaran merupakan sarana yang  ampuh untuk menyiarkan acara pendidikan khalayak secara meluas dan serempak. Sebagian alokasi waktu siaran juga diisi oleh acara-acara hiburan bisa berupa musik maupun drama radio. Radio siaran juga merupakan sarana propaganda, bisa terlihat dengan banyaknya pemasang iklan yang memilih radio siaran sebagai sarana pemasangan iklannya.

Penyampaian pesan melalui radio siaran, berbeda dengan penyampaian pesan melalui media massa lainnya, seperti yang dikatakan Palapah & Syamsudin, bahwa tiap acara dari pada radio siaran berbeda pada kepala/jiwa setiap pendengar karena itu agar komunikasi kita dapat memproyeksikan gambar-gambar yang tepat maka antara siaran, kata, gambar-gambar yang tepat maka antara siaran, kata, sound effects, dan musik harus disiarkan secara harmonis, menurut teknik-teknik tertentu (Palapah&Syamsudin, 1983:112).

Komunikator yang menyampaikan pesan kepada komunikan melalui radio siaran harus dapat mengkombinasikan unsur-unsur penting dalam meningkatkan efektivitas pada siaran radio. Yaitu sound effect, musik, dan kata-kata sehingga dapat diterima dengan baik oleh komunikan yang bersifat heterogen aktif, dan selektif, agar komunikasi yang dilakukan oleh komunikator berjalan efektif dan effesien.

  1. Permasalahan kepentingan lingkungan dan masyarakat

Dalam menjalankan fungsi informasionalnya, radio siaran membuat khalayak lebih terlibat dalam masalah aktual dan dekat lingkungan (“proximity”). Meskipun struktur sentralistis dapat mensuplai informasi yang bersifat nasional dan internasional, namun informasi yang memenuhi nilai proximity tetap sebagai prioritas bagi radio siaran. Semakin banyak radio siaran di satu kota yang dapat menjajikan secara khas dan orisinal informasi dengan nilai proximity ini, situasi lingkungan akan menjadi lebih terbuka dan jelas. Tetapi dengan situasi sekarang, masyarakat hanya menjadikan sumber hiburan.

Kecenderungan ini tidak sehat bagi upaya membangun institusi komunikasi di Indonesia. Sebagai institusi media massa, radio siaran diharapkan dapat menjalankan fungsinya secara proporsional. Dalam kerangka yang sehat, seharusnya fungsi informasional dan hiburan yang seimbang. Jika masyarakat menempatkan satu radio siaran sebagai prioritas sumber hiburan, pengelola agaknya sudah perlu risau. Betapa pun besar jumlah khalayak yang bisa dijangkaunya, namun keberadaannya sebagai institusi media massa belum berhasil dibangun.

Banyak penggunaan awal radio adalah maritim, untuk mengirimkan pesan telegraf menggunakan kode Morse antara kapal dan darat. Salah satu pengguna awal termasuk Angkatan Laut Jepang memata-matai armada Rusia pada saat Perang Tsushima di 1901. Salah satu penggunaan yang paling dikenang adalah pada saat tenggelamnya RMS Titanic pada 1912, termasuk komunikasi antara operator di kapal yang tenggelam dan kapal terdekat, dan komunikasi ke stasiun darat mendaftar yang terselamatkan.

Radio digunakan untuk menyalurkan perintah dan komunikasi antara Angkatan Darat dan Angkatan Laut di kedua pihak pada Perang Dunia II; Jerman menggunakan komunikasi radio untuk pesan diplomatik ketika kabel bawah lautnya dipotong oleh Britania. Amerika Serikat menyampaikan Empat belas Pokok Presiden Woodrow Wilson kepada Jerman melalui radio ketika perang.

Siaran mulai dapat dilakukan pada 1920-an, dengan populernya pesawat radio, terutama di Eropa dan Amerika Serikat. Selain siaran, siaran titik-ke-titik, termasuk telepon dan siaran ulang program radio, menjadi populer pada 1920-an dan 1930-an.

Penggunaan radio dalam masa sebelum perang adalah pengembangan pendeteksian dan pelokasian pesawat dan kapal dengan penggunaan radar].

Sekarang ini, radio banyak bentuknya, termasuk jaringan tanpa kabel, komunikasi bergerak di segala jenis, dan juga penyiaran radio.


 

Bab II

tujuan dan manfaaat

  1. Manfaat bagi pengguna

Maksud didirikannya Radio adalah untuk menyampaikan berbagai informasi kepada masyarakat yang menjadi wilayah jangkauan penyiaran Radio Sedangkan tujuan didirikannya Radio adalah :

1. Untuk menumbuhkan dan mengembangkan semangat berbudaya dalam diri masyarakat;

2. Untuk meningkatkan pemberdayaan seluruh potensi yang ada sehingga akan mampu mendorong percepatan perubahan kearah yang lebih maju;

3. Untuk membantu kegiatan masyarakat dalam berbagai sektor seperti kegiatan bidang ekonomi, sosial, budaya, informasi, dan lain-lain;

4. Sebagai media pembelajaran dan ajang pendidikan masyarakat dalam kehidupan bernegara, berdemokrasi dan bermasyarakat sehingga tatanan, kemajuan pola pikir, serta dinamika kehidupan akan tertanam dengan lebih mapan dalam diri masyarakat;

5. Untuk memacu percepatan pembangunan di bidang sosial, ekonomi, budaya, dan demokrasi rakyat.

  1. Manfaat bagi mahasiswa

Berbeda dari zaman orde baru, dimana pemerintah saat itu hanya mengkapling frekuensi untuk swasta, kini radio kampus bisa bersaing dengan radio komunitas lainnya untuk bisa bersiaran legal dan tidak harus bergerilya mencari frekuensi ’nganggur’ atau menunggu radio swasta selesai siaran. Asal mampu memenuhi persyaratan untuk layak bersiaran dan mendapatkan rekomendasi kelayakan dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), serta frekuensi yang diperuntukkan untuk LPK masih tersedia, maka radio kampus bisa mengudara secara resmi. Meski begitu, tetap saja daya jangkauannya terbatas, hanya 2,5 KM dari lokasi stasiun pemancar dengan kekuatan daya pancar maksimal 50 watt.

Keberadaan radio kampus di Indonesia memang tidak sekuat koran kampus. Bahkan, menurut catatan seorang peneliti Lembaga Kajian Media Massa dan Budaya, dari beberapa literatur yang ada, ia tidak banyak menemukan tulisan yang mengupas perkembangan radio mahasiswa. Data mengenai radio kampus pun, sulit didapat sehingga sulit memetakan kekuatan radio mahasiswa. Penyebabnya adalah banyaknya kendala yang menghimpit radio kampus sehingga sulit berkembang. Diantaranya seringkali siaran radio kampus terpaksa batal gara-gara bentrok dengan ujian, sumber daya yang pas-pasan yang kebanyakan mahasiswa hanya modal semangat hingga pelatihan tak pernah diadakan, acara dan teknik siaran seadanya, teknologi yang pas-pasan, serta modal yang juga pas-pasan.

Walaupun demikian, jika sebuah perguruan tinggi ingin menambah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) berupa radio kampus, sebenarnya bukan hal yang terlalu buruk. Sebagai orang yang pernah menjadi bagian dari radio kampus saat menjadi mahasiswa, saya merasakan manfaat yang cukup besar dari UKM jenis ini.

Selain pengalaman, banyak pelajaran yang bisa didapat di dalamnya. Mulai dari belajar disiplin pada waktu, belajar berbicara dengan jelas dan tepat, belajar menjadi penganalisa yang baik, belajar bekerja dalam sebuah tim, belajar menyampaikan informasi kepada orang lain, hingga belajar berbicara di depan umum. Pengalaman yang didapat pun tak kalah berguna. Paling tidak, pada curriculum vitae sudah bisa dicantumkan pengalaman bekerja sebagai penyiar radio kampus untuk referensi. Lebih dari itu, radio kampus juga merupakan sekolah atau lembaga pendidikan non formil yang keberadaannya diakui oleh radio-radio swasta. Banyak radio swasta yang merekrut penyiar radio kampus untuk menjadi karyawannya saat mereka membutuhkan tenaga penyiar dalam waktu singkat. Alasannya, penyiar radio kampus sudah punya basic untuk menjadi seorang announcer yang baik.

  1. Manfaat bagi lembaga

Selain manfaatnya dirasakan langsung oleh mahasiswa yang terlibat dalam radio kampus, perguruan tinggi dan komunitas kampus juga sudah pasti memperoleh manfaat. Mahasiswa yang umumnya punya wawasan dan kemampuan intelektual yang baik, akan mampu memberikan informasi-informasi yang berguna bagi komunitasnya. Pengetahuan-pengetahuan terkini, info-info dan pengumuman seputar kampus, jadwal perkuliahan, hingga pelajaran kuliah yang bisa dibahas di radio, bisa menjadi program-program unggulan yang tak kalah menarik untuk didengarkan oleh komunitas kampus. Apalagi di era demokrasi sekarang ini, mahasiswa bisa berdiskusi dengan mengundang narasumber untuk membahas hal-hal yang tengah menjadi isu hangat di komunitas kampus. Yang jelas, radio kampus merupakan salah satu cara untuk membentuk mahasiswa menjadi lebih kreatif dan tidak hanya berkutat pada buku-buku perpustakaan.

Terdapat suatu tata cara pengelolaan dan tujuan pendirian radio. Pengelolaan radio memperhatikan aspek keterlibatan warga atau komunitas. Tujuan kegiatan penyiaran di radio s melayani kebutuhan informasi warganya sehingga keterlibatan mereka dalam merumuskan program sangat penting.

Hal berbeda terjadi di dunia radio swasta. Lembaga ini berdiri untuk meraih pendengar sebanyak-banyaknya sehingga aspek rating sangat diperhitungkan sebagai ukuran gengsi radio. Hidup dan matinya radio swasta terletak pada pemasukan iklan sehingga seluruh kreativitas diukur dari segmen pasar yang disasar. Singkat kata, radio komunitas mengutamakan kepentingan dan kebutuhan warga di wilayah tempat radio tersebut sementara radio swasta diarahkan kepada segmen pasar.


 

Bab III

kajian Teori

 

  1. Industri kreatif

Industri radio siaran sebagai subsektor dalam industri kreatif nasional sangat berpotensi untuk dikembangkan. Kapasitas dan layanan Radio akan meningkatkan efektifitas dan nilai tambah yang terkait dengan rantai nilai dalam industri radio siaran,” kata Vice President Public and Marketing Communication Telkom, Agina Siti Fatimah, dalam siaran persnya. Rantai nilai tersebut meliputi usaha kreasi, produksi, distribusi, dan komersialisasi.

Radio memiliki tujuh fitur unggulan. Pertama, dynamics live streaming. Fitur ini mendukung operasi penyiaran radio dimana seluruh “stakeholder radio” yang terlibat dari mulai crew, pendengar, hingga pemasang iklan, secara terintegrasi dapat bekerja, mendengarkan, dan sebagainya sambil monitor rundown acara, iklan, judul lagu dan nama penyanyi secara dinamis via website radio.

Kedua, contextual podcast streaming. Fitur ini memudahkan para pendengar untuk memilih hasil produksi seni siaran yang tersedia. Hasil produksi itu bisa dilihat dan didengar secara on demand.

Ketiga, stay tune social marketing. Fitur ini memudahkan berbagai pihak melakukan promosi hasil produksi seni siaran radio kepada teman-teman dan relasinya dengan cara mengunggah atau mempublish di Facebook, Twitter dan lain-lain. Dan untuk selanjutnya suaranya atau hasil siarannya bisa didengarkan secara langsung pada halaman Facebook teman-teman dan relasi kita.

Keempat, multi request integration. Fitur ini memudahkan proses interaksi dengan pendengar tanpa repot-repot harus membuka satu persatu masing-masing aplikasi spt Facebook, Twitter, web maupun sms. Karena multi request integration terangkum hanya dalam satu halaman web secara praktis.

Kelima, listening everywhere broadcasting anywhere. Fitur ini memungkinkan setiap orang bisa mendengarkan radio tidak harus menggunakan radio. Siaran radio dapat diakses dengan HP, iPad, iPphone, Galaxi Tab, dan lain-lain. Dan bisa didengarkan dimana saja. Teknologi radio memudahkan dalam operasional dan manajemen siaran, pengelolaan siaran bisa dilakukan secara jarak jauh dimana saja tidak harus berada kantor, menjadikan new live stile lebih cerdas dan menarik.

Keenam, radio business innovations. Fitur ini memungkinkan pendengar bisa mengakses konten premium, juga bisa menyusun play list content audio untuk mendengarkan kapan saja any time. Hal ini menjadi konsep baru penyiaran, “one to one broadcasting”. Dan yang pasti PT Telkom dan mitra inovatornya pada saat ini sedang mengembangkan user generate cotent integration dan fasilitas send play list untuk dikirim kepada teman teman kita, sehingga fitur ini membuat kondisi “everybody can be broadcaster”. Selain itu, fitur ini juga menjadikan pemasang iklan lokal dengan mudah dapat menawarkan produknya melalui portal radio yang disertai teks, gambar, suara, animasi maupun video yang lebih kreatif dan dapat diakses lebih lama dengan jangkauan yang lebih luas sesuai dengan prinsip viral marketing.

Ketujuh, radio on applications market. Fitur ini menjadikan aplikasi radio dapat di down load melalui market aplikasi yang dimulai dari Android market selanjutnya ke market aplikasi popular lainnya seperti Apple Store hingga market SmartTV seperti GoogleTV dan Telkom IPTV sehinga untuk mendengarkan radio cukup meng klik widget atau shorcut dari radio kesayangan kita.

Telkom juga berjanji, fitur-fitur tersebut akan terus dikembangkan melalui integrasi fitur berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Sehingga tidak lama lagi Radio memiliki kemampuan “Voice Control & Respond” atau disebut Radio 3.0.

Trend konvergensi TIK dan Media menurut Agina terus bergerak merevolusi dunia. Akibatnya Vox Populi atau suara publik semakin teresonansi menjadi kekuatan yang luar biasa untuk mengadakan perubahan. Resonansi itu akan semakin kuat dan menjalar dalam waktu yang cepat karena tersedianya layanan teknologi dan inovasi penyiaran terbaru.

  1. Sosial budaya

Siaran radio merupakan kombinasi yang menggunakan simbol audio (suara) yang disiarkan dari stasiun pemancar radio dan diterima khalayak melalui pesawat penerima.  Dalam mempersiapkan acara siaran radio harus harus memperhatikan beberapa faktor yang menentukan efektifitas siaran tersebut, yaitu :

  1. Faktor situasional atau lingkungan
  2. cara atau metode penyampaian
  3. materi siaran itu sendiri

Penyiar radio merupakan seseorang yang bertugas membawakan suatu acara, karenanya seorang penyiar dituntut memiliki keahlian yaitu komunikatif, interaktif, serta kreatif dalam membawakan acara agar acara yang dibawakannya dapat menarik perhatian pendengar. Sikap penyiar yang baik yaitu:

  1. sopan di udara sesuai dengan kebutuhan pendengar
  2. mampu menghargai waktu
  3. tanggung jawab dan rendah hati
  4. tidak menggurui.

Dari segi bahasa dan penuturan seorang penyiar harus memilki vokal yang jelas, pandai memih kata yang relevan dan aktual dengan acar, pandai berimprovisasi, menyesuaikan gaya penyaiaran dengan acara yang dbawakan serta inovatif. Selain itu penyiar juga harus memilki wawasan, yaitu :

  1. memiliki latar belakang sosial pendidikan memadai
  2. bersifat terbuka
  3. menerima kritik
  4. wawasan yang ditampilkan relevan dengan acara yang dibawakan, aktual, serta menyuguhkan informasi segar ke pendengar.

Produk siaran merupakan ketrampilam memadukan wawasan kreatif dan kemampuan mengoperasikan peralatan produksi. Produk siaran merupakan hasil produk dari suatu stasiun radio yang merupakan hasil kerja tim sehingga perlu dukungan dan kekompakan.

Program siaran  banyak serta beragam kemasan yaitu :

  1. Berita informasi, dapat berupa siaran langsung dan tunda
  2. Iklan, harus dapat mengandung unsur yang menarik pendengar, berisi informasi, berisi informasi, dorongan untuk berubah, harapan dan
  3. Jinggel ,merupakan gabungan musik dan kata yang mengidentifikasikan kebutuhan stasiun radio
  4. Talk show, merupakan seni berbicara dan wawncara
  5. Infotainment

Keunggulan program siaran radio yaitu:

  1. Materi sesuai pendengar aktual
  2. Kemasan acara interaktif memikat
  3. Penempatan waktu siaran pada jam siar utama
  4. Pembawaan yang kreatif
  5. interaksi/partisipasi pendengar

Program acara yang dibuat harus dikemas semenarik mungkin agar dapat meningkatkan minat khalayak untuk mendengarkannya, syarat program acara yang baik, yaitu:

  1. Sesuai sasaran
  2. Harus utuh
  3. Kemasan bervariasi
  4. Orisini;
  5. Kualitas baik
  6. Bahasa sederhana

Selain memiliki beragam manfaat, radio juga memiliki beberapa kelemahan antara lain :mudah terganggu oleh cuaca

  1. komunikasinya hanya berlangsung searah
  2. terlalu cepat
  3. kurang autentik
  4. memiliki khalayak yang beragam
  5. tidak mendetail karena komunikasinya hanya disampaikan secara lisan
  6. Pendidikan teknologi dan kreativitas

Tahun 1960, merupakan era reformasi politik yang muncul suatu peraturan baru  bagi keberadaan  stasiun radio di indonesia yang membatasi dan mengikat radio berbasis kamus dan radio mahasiswa lain.

Pada tahun 1970 radio swasta disahkann oleh pemerintah. Pada tahun 1990 jumlah stasiun radio yang ada di indonesia meningkat, karena perusahaan atau orang konglomerasi banyak yang mendirikan stasiun radio menyiarkan kepentingan mereka.

Radio komunitas mulai berkembang pada tahun 2000. alasan pendirian radio komunitas ialah hanya membutuhkan tekhnologi sederhana, biaya yang murah serta siarannya dapat diajngkau secara gratis.

Radio mudah beradaptasi dan sering dengan kehebatanya menyajikan bentuk siaran “live” (secara langsung), tidak memerlukan pemrosesan film, tidak perlu menunggu proses pencetakan. Bahkan pada saat ini radio digunakan sebagai media pendidikan yang menggunakan konsep dan juga fakta.

Bab IV

Analisis

Dari berbagai konstatasi permasalahan makro dan mikro yang melingkupi radio siaran, setidaknya dapat dipertimbangkan pokok-pokok pikiran berikut ini:

1. Regulasi

Regulasi disini berarti adanya dasar hukum bagi peneyelenggaraan siaran elektronik.

Dengan adanya dasar hukum ini sekaligus menjadi deregulasi atas kendala-kendala

birokrasi, sehingga diharapkan:

a. Ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan media massa elektronik umumnya, radio

khususnya, tidak lagi semata-mata keputusan birokrasi.

b. Swasta dapat menyelenggarakan usaha networks dan multi channel dalam siaran radio.

c. Pengelola radio swasta dapat menyelenggarakan siaran informasi faktual dengan proses

yang otonom.

2. Asosiasi

Perlunya meningkatkan peran asosiasi dengan kejelasan fungsinya, di antaranya:

a. Sebagai asosiasi pengusaha perusahaan media radio, melakukan langkah-langkah

strategis secara sosial dan politik agar media radio dapat berkembang menjadi institusi

yang kuat dalam masyarakat.

b. Sebagai asosiasi broadcaster radio yang dapat menjadi wadah bagi kaum profesional

dalam mengembangkan standar profesionalisme agar memiliki kejelasan peran sosialnya

dalam dunia komunikasi.

3. Profesionalisme

Profesionalisme disini akan menuntut:

a. Standar kualifikasi bagi broadcaster radio swasta. Selama dunia pendidikan belum siap

menjawab tantangan profesionalisme dalam peradioan swasta, pola magang yang

dijalankan selama ini diharapkan dapat dikembangkan lebih bersistem dan terencana. Akan lebih baik jika asosiasi peradioan merumuskan sendiri kebutuhannya, dan merancang kurikulum yang sesuai dengan tantangan yang dihadapi di masa depan, untuk memberikan latihan-latihan profesi bagi para broadcaster dan pengelola perusahaan radio.

b. Strategi manajemen dalam membangun format stasiun. Setiap perusahaan radio swasta

diharapkan dapat merumuskan dan membangun format stasiunnya. Pada tahap awal,

asosiasi peradioan diharapkan dapat menggerakkan satuan tugas untuk membantu stasiun yang memerlukankonsultasi pengembangan manajemen dan format stasiunnya.

Bab  VI

Penutup

 

Simpulan dan saran

Dari beberapa pendapat masyarakat diatas terdapat perbedaan tentang dimana posisi radio di tengah-tengah masyarakat itu. Lalu di mana dan bagaimanakah letak radio dalam peta masyarakat sekarang ini? Jikalau berbicara mengenai masalah efektifitas dari penyampaian pesan dan efeknya terhadap masyarakat maka itu sebenarnya tidak bisa dijadikan sebuah ukuran. Karena dalam komunikasi massa dikemukakan bahwa siaran-siaran di radio bukan merupakan proses dari sebuah pengiriman pesan dari seorang komunikator kepada komunikan. Namun lebih mengarah kepada pemberian makna sebuah pesan oleh komunikan. Jadi bisa dikatakan bahwa bagaimana kedudukan radio dalam masyarakat itu bergantung pada bagaimana tiap-tiap personal memaknai radio dalam kehidupan mereka, entah itu sebagai sebuah media hiburan ataukah sebuah media mancari berita.

Lalu bagaimanakah penggunaan salah satu media penyampai informasi yang pernah booming dan memiliki peran penting dalam dunia sekarang ini? Media yang dulu pernah berjasa membantu pemuda-pemuda kita dalam merebut dan mempertahan kemerdekaan ini sangatlah penting dalam menyebarkan informasi kepada masyarakat yang minim sekali alat penyampai informasi kala itu. Dengan radio pula kita dapat mengetahui bahwa Jepang telah menyerah pada sekutu sehingga kita mampu mendeklarasikan kemerdekaan kita. Dahulu Radio juga menjadi salah satu alat untuk mengontrol pemerintah dan sebagai alat pengobar semangat bagi pemuda-pemuda Indonesia untuk tetap berjuang.

Namun, sekarang ini radio agak meredup “kesaktiannya”. Radio sudah dianggap kuno dan kalah dengan media-media lainnya. Radio sudah tidak terlalu populer. Alih-alih mendengarkan siaran radio orang zaman sekarang lebih suka melihat televisi atau membaca koran. Bahkan keberadaan internet seolah-olah menambah satyu “musuh” lagi bagi radio.
Seharusnya radio bisa dimanfaatkan lebih optimal lagi. Bagaimanapun juga radio pernah berjasa dalam dunia informasi. Atau mungkin ada pembagian segmen sehingga para pendengar tidak lari beralih kepada media yang lain.

Setelah membahas bagaimanakah hakikat, posisi, dan radio konvesional secara umum, akan dibahas sebuah radio yang pada awal kemunculannya sempat dianggap sebagai radio atau “suara dari antah berantah”, radio mahasiswa. Radio yang semenjak berakhirnya masa orde baru mulai ramai bergema dan memadati frekuensi-frekuensi radio

Daftar rujukan

[Anonim], 2008. Sejarah Perkembangan Radio. http://lilikzone.co.cc/?p=6.  [26 Januari 2008]

Hapsari, D. R. 2007. Peranan radio siaran dalam pengembangan masyarakat. Skripsi.. Institut Pertanian Bogor.

Handoko, T. H. 2000.  Dasar-dasar Manajemen Produksi dan Operasi.  Edisi I. BPFE. Yogyakarta. 463 hal

Jubido, B. K. U. 2007. Persepsi mahasiswa terhadap mutu siaran radio agri fm di Institut Pertanian Bogor. Skripsi. Institut Pertanian Bogor.

Nasoetion, A. H. 2007.  Pengantar Ilmu-ilmu Pertanian.  PT Pustaka Litera AntarNusa.  Bogor. 178 hal.

Pusat Penelitian Kelapa Sawit.  1994.  Pengantar Manajemen Perkebunan Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit.  Medan. 142 hal.

Rimadias, S. 2005. pola mendengarkan siaran radio kissi 93,4 fm dan pegaruhnya terhadap perilaku remaja. Skripsi. Institut Pertanian Bogor.

Riyanto, S, Richard W.E.L, dan Hadiyanto. 1991. Penyisipan penyiaran informasi pertanian dalam acara hiburan siaran radio di DAS Citanduy, Jawa Barat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: